Selasa, 11 Oktober 2011

KONSUMSI DALAM ISLAM


KONSUMSI DALAM ISLAM

BAB I
Pendahuluan

A. Latar belakang

Islam adalah agama yang memiliki keunikan tersendiri dalam hal syariah, sangat komprehensif dan universal. Komprehensif berarti merangkum seluruh aspek kehidupan, baik ritual maupun sosial (mu’amalah). Universal berarti dapat diterapakan setiap waktu dan tempat. Dalam hal konsumsi pun Islam mengajarkan sangat moderat dan sederhana, tidak berlebihan, tidak boros, dan tidak kekurangan karena pemborosan adalah saudara- saudara setan (QS. Al- Isro’. 17: 27).

B. Rumusan Masalah

Maka dengan pembahasan tentang konsumsi yang akan kita bahas pada kali ini. Dengan demikian maka dianggap perlu kita rumuskan beberapa masalah yang akan kita bahas kali ini agar pembahasan tidak rancu dan panjan kali lebar sama dengan luas, berikut beberapa rumusa masalah:

1) Bagaimana hadist yang menerangkan tentang konsumsi?
2) Bagaimana perilaku konsumen dalam Isalam?
3) Dan begitu juga yang mejadi sasaran konsumsi itu siapa?

Demikian rumusan masalah yang kami anggap penting untuk kita bahas pada kali ini, agar pembahasan kita lebih sistematis dan efisien.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsumsi dalam Islam

Konsumsi pada hakikatnya adalah mengeluarkan sesuatu dalam rangka memenuhi kebutuhan. Konsumsi meliputi keperluan, kesenangan dan kemewahan. Kesenengan atau keindahan diperolehkan asal tidak berlebihan, yaitu tidak melampui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan tidak melampui batas- batas makanan yang di halalkan. Konsumen muslim tidak akan melakukan permintaan terhadap barang sama banyak dengan pendapatan, sehingga pendapatan habis. Karena mereka mempunyai kebutuhan jangka pendek (dunia) dan kebutuhan jangka panjang (akhirat).

خد ثنا يزيد بن هارون أخبرنا همام عن قتادة عن عمروبن شعيب عن ابيه عن جده ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : كلوا واشربوا وتصدقوا والبسوا غير (مخيلة ولا سرف . وقال يزيد مرة فى غير إسراف ولا مخيلة (رواه الا مام احمد

Nabi saw bersabda: “makan dan minumlah, bersedekahlah serta berpakaianlah dengan tidak berlebihan.”
(Matan lain: Nasa’I 2512, Ibnu Majah 3595)

Hadis diatas memberikan pengertian bahwa permitaan harus di hentikan setelah kebutuhan dunia terpenuhi, karena ada kebutuhan akhirat yang harus dipenuhi, yaitu zakat. Dalam ilmu ekonomi konvensional, konsumsi agregat terdiri dari konsumsi barang kebutuhan dasar (Cn) serta konsumsi barang mewah (C1) dan yang dapat mempengaruhi konsumsi adalah tingkat harga dan pendapatan. Dalam Islam tingkat harga saja tidak cukup untuk mengurangi konsumsi barang mewah, tetapi dibutuhkan faktor moral dan sosial, diantaranya adalah membayar zakat.
 Ajaran Islam sebenarnya bertujuan untuk mengingatkan umat manusia untuk membelanjakan hartanya sesuai kemampuannya. Pengeluaran tidak seharusnya melebihi pendapatan (lebih besar pasak dari pada tiang) dan tidak juga menekan pengeluaran terlalu rendah sehingga mengarah kepada kebakhilan.

B. Perilaku Konsumsi Dalam Islam
Berikut beberapa perilaku konsumen dalam Islam yang di sampaikan oleh Rasulullah yang diterangakan dalam beberapa hadist, yaitu:

1) Halal
حد ثنا ابو نعيم حد ثنا زكرياء عن عامر قال : سمعت النعمان بن بشير يقول سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : الحلال بين والحرام بين وبينهما مثبهات لا يعلمها كثير من الناس فمن اتقى المشبهات استبرأ لدينه وعرضه ومن وقع فى الشبهات كراع يرعى حول الحمى يوشكم أن يواقعه ألا وإن لكل ملك حمى ألا إن حمى الله فى أرضه محارمه الا وإن فى الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله الا وهي القلب (رواه البخارى)

Nabi saw bersabda: “halal itu jelas, haram juga jelas, diantara keduanya itu subhat, tidak banyak manusia yang mengetahui. Barang siapa menjaga diri dari barang subhat, maka ia telah bebas untuk agama dan harga dirinya,barang siapa yang terjerumus dalam subhat maka diibaratkan pengembala disekitar tanah yang di larang yang di khawatirkan terjerumus. Ingatlah, sesungguhnya setiap pemimpin punya bumi larangan. Larangan Allah adalah hal yang diharamkan oleh Allah, ingatlah bahwa sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, jika baik maka baiklah seluruhnya, jika jelek maka jeleklah seluruh tubuhnya, ingatlah itu adalah hati.”
(Matan lain: Muslim 2996, Turmudzi 1126, Nasa’I 4377, Abi Daud 2892, Ibnu Majah 3974, Ahmad 17624, Darimi 2419 )
Hadist ini sesuai dengan firman Allah, bahwa dilarang mengkonsumsi barang yang batil dan dengan cara yang batil pula.
2) Baik/ bergizi
وحد شنى ابو كريب محمد بن العلاء حد ثنا أبو أسامة حد ثنا فضيل بن مرزوق حد ثنى عدي بن ثابت عن ابى خازم عن ابى هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم. ايها الناس إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا وان الله امر المؤمنين بماامر به المرسلين فقال , ياايهاالرسل كلوا من الطيبات واعملوا صالعا إنى بما تعملون عليم وقال ياأيهاالذين امنوا كلوا من طيبات مارزقنا كم ثم ذكر الرجل يطيل السفر الشعث أغبر يمد يديه إلى السماء يارب يارب ومطعمه (حرام و مشربه حرام و ملبسه حرام وغذي بالحرام فائنى يستجاب لذلك. (رواه المسلم

Nabi saw bersabda:” wahai manusia! Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Ia memerintahkan pada orang- orang yang beriman apa yang diperintahkan pada para utusan. “kemudain baca ayat “ wahai para utusan, makanlah dari yang baik dan beramallah yang baik, karena sesungguhnya kami mengetahui apa yang kalian kerjakan.” Baca ayat lagi “ makanlah dari yang baik atas apa yang Kami rezeqikan padamu.” Kemudaian Nabi menuturkan ada seorang laki- laki yang bepergian jauh, rambutnya acak-acakan dan kotor. Dia menengadahkan kedua tangannya keatas seraya berdo’a: Wahai tuhanku, wahai tuhanku”, sedang yang dimakan dan yang diminum serta dan yang di pakai adalah berasal dari yang haram, mana mungkin doanya diterima”.
(Matan lain: Turmudzi 2915, Ahmad 7998, Darimi 2601)
3) Tidak Berlebih – Lebihan
حد ثان حشام بن عبد الملك الحمصي حدثان محمد بن حرب حد ثتنى امى عن امها أنها سمعت المقدام بن معد يكرب يقول سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم. يقول : ما ملأادمي وعاء شرا من بطن حسب الأدمى لقيمات يقمن صلبه فإن غلبت الادمي نفسه فثلث للطعام وثلث للنفس. (رواه ابن ماجه)

Rasulullah saw bersabda:” Anak Adam tidak mengisi penuh suatu wadah yang lebih jelek dari perut, cukuplah bagi mereka itu beberapa suap makan yang dapat menegakkan punggungnya, apabila kuat keinginannya maka jadilah sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum, sepertiga untuk dirinya atau udara.”
4) Tidak mengandug riba, tidak kotor/najis dan tidak menjijikkan

حد ثنا ابوالوليد حد ثنا شعبه عن عون بن أبى جعيفة قال : رأيت ابى اشترى عبدا حجاما فشألته فقال نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن ثمن الكلب وثمن الدام ونها عن الواشمة والموشومة واكل الربا وموكله ولعن المصور. (رواه الامام البخارى)

Nabi saw melarang hasil usaha dari anjing, darah, pentato dan yang ditato, pemakan dan yang menerima riba, dan melaknat pembuat gambar.
(Matan lain: Abi Daud 3022, Ahmad 18007, 18014 )
5) Bukan dari hasil suap
حد ثنا حجاج حد ثنا ابن ابى ذئب ويزيد قال : اخبارنا ابن ابى ذ ئب عن الحارث بن عبد الرحمن عن ابة سلمة عن عبد الله بن عمر وعن النبى صلى الله عليه وسلم قال : لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم الراشي والمرتشي قال يزيد لعنة الله على الراسى والمرتشى (رواه الامام احمد)
Ibnu Umar berkata: “Nabi melaknat penyuap dan yang disuap, Yazid menambah; Allah melaknat penyuap dan yang disuap.”
(Matan lain: Turmudzi 1257, Abi Daud 3109, Ibnu Majah 2304)
Menyuap dalam masalah hukum adalah memberikan sesuatu baik berupa barang maupun lainnya dengan tujuan tertentu. Oleh kerena itu Islam melarang perbuatan tersebut dan termasuk dosa besar yang di laknat Allah.

C. Sasaran komsumsi

a) Konsumsi untuk diri dan keluarga

حد ثان ادم بن ابى إياس حد ثنا شعبه عن عدي بن ثابت قال : شمعت عبد الله بن يزيد الأنصاري عن ابى مسعور الا نصاري فقلت عن النبي . فقال : عن النبي صلى الله عليه (وسلم قال إذاأنفق المسلم نفقة على اهله وهو يحتسبها كانت له صدقة (رواه الامام البخارى

Nabi saw bersabda: “ketika seorang muslim menafkahkan hartanya untuk keluarganya dengan tujuan mencari pahala dari Allah maka di hitung sebagai sedekah.
(Matan lain: Muslim 1669, Turmudzi 1888, Ahmad 16463, Darimi 2549)
Islam mengajarkan bahwa semua pengeluaran yang dilakukan seseorang untuk kedua orang tuanya, anak- anaknya bahkan untuk dirinya sendiri daianggap sebagai amalan yang baik dan terpuji serta sebagai suatu ibadah.

b) Konsumsi sebagai tanggunagjawab sosial

Begitupun dengan apa saja yang di nafkahkan untuk fakir-miskin dan duafa adalah suatu perbuatan mulia di sisi Allah SWT, dan Allah SWT akan melimpahkan pahala sebagaimana yang telah termaktub dalam hadist yang tertuang dalam penjelasan tentang jaminan sosial.



BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Maka dengan ini dapat kita simpulkan bahwa:
v خد ثنا يزيد بن هارون أخبرنا همام عن قتادة عن عمروبن شعيب عن ابيه عن جده ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : كلوا واشربوا وتصدقوا والبسوا غير مخيلة ولا سرف . وقال يزيد مرة فى غير إسراف ولا مخيلة (رواه الا مام احمد)

v Perilaku konsumsi dalam Islam harus Halal, Baik/ bergizi, Tidak Berlebih – Lebihan, Tidak mengandug riba, tidak kotor/najis, dan tidak menjijikkan, Bukan dari hasil suap

 Sasaran komsumsi, yaitu; konsumsi untuk diri dan keluarga, Konsumsi sebagai tanggunagjawab sosialv


DAFTAR PUSTAKA

Nur Diana,ilfi. hadis hadis ekonomi.2008.UIN Malang Press. Cetakan Pertama. Yogyakarta

Antonio. 2001. bank syar'iah. Jakarta: Gema Insani Press

An- Nabhani. tt. Membanggun System Ekonomi Alternative. Surabaya: Risalah Gusti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar